Tema : Masyarakat perkotaan & masyarakat pedesaan
Kota adalah tempat yang padat dan dihuni
oleh orang-orang yang heterogen (beraneka ragam). Pengertian kota secara umum
adalah tempat bermukim, bekerja, dan kegiatan warga kota baik itu dalam bidang ekonomi, pemerintahan,
dll. Kehidupan
kota yang lebih modern, Sarana dan prasarana kota yang lebih lengkap, banyaknya
lapangan pekerjaan, pendidikan sekolah dan perguruan tinggi lebih baik dan
berkualitas, serta
gaya hidup yang glamour merupakan faktor penarik kaum pengadu nasib yang ingin menjajal
kehidupan di kota
Menurut prediksi Badan Kependudukan dan
Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), arus urbanisasi ke Jakarta dan wilayah
penyangga seperti Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi pada lebaran tahun 2014 meningkat sebesar
200.000-300.000 orang.
Prediksi itu dilakukan berdasarkan
arus urbanisasi rata-rata setiap tahun di kawasan ini. Bahkan, dari tahun ke
tahun angka itu menunjukkan kecenderungan menaik. Secara nasional, tahun 2010
arus urbanisasi mencapai 49,8%. Diproyeksikan, pada lima tahun kemudian, 2015,
arus urbanisasi mencapai 53,5% dan tahun 2025 diperkirakan mencapai 60%.
Menurut kamus besar
Bahasa Indonesia (KBBI) arti kata Urbanisasi adalah orang yang berpindah dari
desa ke kota. Sedangkan menurut pengertian umum, Urban adalah sekelompok orang
yang selalu menerima perubahan, perkembangan dan mereka semua mengikutinya.
Ibu Kota Jakarta merupakan surganya kaum urban,
umumnya kaum urban ini berasal dari wilayah pedesaan seperti jawa tangah, jawa
timur, pulau sumatera, kalimantan bahkan papua. Kaum urban ini beranggapan bahwa
mencari pekerjaan dikota lebih mudah dibandingkan mencari kerja didesa, padahal
tidak semudah yang dibayangkan, jika kaum pengadu nasib mempunyai skill yang
mempuni sudah pasti ia akan mudah mencari pekerjaan, namun jika si pengadu
nasib ini tidak mempunyai skill dan hanya mengandalkan sanak saudaranya dikota,
sudah pasti ia akan tersingkirkan.
Kaum urban
sering dikonotasikan negatif oleh penduduk asli (pribumi), di mana mereka
sering dianggap pembuat masalah, menciptakan kekusutan ibukota bahkan ada yang
lebih parah lagi mereka mengganggap kaum urban adalah orang yang tidak jelas
asal-usulnya dan tidak jelas tujuan hidupnya. Hal ini bisa benar dan bisa juga
salah karena rata-rata kaum urban berspekulasi apakah mereka benar-benar bisa
hidup dan bekerja di tempat tujuan atau bahkan harus kembali ke kampung halaman
namun jadi bahan tertawaan. Bahkan adapula yang berprinsip lebih baik mati
daripada harus kembali dengan tangan hampa.
Ada kaum urban yang memang memiliki modal besar, dia
mau membuka usaha di Ibu Kota sehingga menciptakan lapangan kerja baru, dan
karena kepandaiannya dalam berbisnis maka dengan ketekunannya pun berbuah hasil
bahkan kekayaannya berada di atas rata-rata. Akan tetapi tidak sedikit pula
kaum urban yang harus rela menjadi pengemis, atau harus rela hidup di kolong
jembatan disebabkan ketidakmampuan berjuang di tengah-tengah kehidupan kota
yang individualistis. Terbentuknya suburb tempat-tempat pemukiman baru
dipinggiran kota, Makin meningkatnya tuna karya (orang-orang yang tidak
mempunyai pekerjaan tetap), Masalah perumahan yg sempit dan tidak memenuhi
persyaratan kesehatan, Lingkungan hidup tidak sehat, timbulkan kerawanan sosial
dan kriminal.
banyaknya
problema akibat "urbanisasi" ini, tentunya menambah
persoalan yang perlu diselesaikan oleh pemerintah maupun masyarakat.
Langkah-langkah yang perlu dilaksanakan dalam pemecahannya terhadap masalah ini
antara lain, adalah:
- Mengembalikan para penganggur di kota ke desa masing-masing.
- Memberikan keterampilan kerja (usaha) produktif kepada angkatan kerja di daerah pedesaan.
- Memberikan bantuan modal untuk usaha produktif.
- Mentransmigrasikan para penganggur yang berada di perkotaan.
- Dan langkah-langkah lainnya yang dapat mengurangi atau mengatasi terjadinya "urbanisasi".
Selain
langkah-langkah tersebut di atas, juga dapat dilaksanakan berbagai upaya
preventif yang dapat mencegah terjadinya "urbanisasi", antara
lain:
- Mengantisipasi perpindahan penduduk dari desa ke kota, sehingga "urbanisasi" dapat ditekan
- Memperbaiki tingkat ekonomi daerah pedesaan, sehingga mereka mampu hidup dengan penghasilan yang diperoleh di desa.
- Meningkatan fasilitas pendidikan, kesehatan dan rekreasi di daerah pedesaan, sehingga membuat mereka kerasan 'betah' tinggal di desa mereka masing-masing.
- Dan langkah-langkah lain yang kiranya dapat mencegah mereka untuk tidak berbondong-bondong berpindah ke kota.
