butir-butir
air mataku mengalir bagaikan air yang mengalir dari hilir kumenangis sendirian didalam kamar karena yang
lain sedang pergi kepasar kuingin berteriak keras biar orang seluruh dunia
pada mendengar tapi sayang suaraku terbatas terdengar sampai
kelurahan paling pol sekecamatan
engkau kejam, engkau sadis kekasihku yang egoistis
tapi manis seperti pala manis kau putuskan tali cintaku yang tebal seperti
tambang kapal hatiku kini hancur luruh bagaikan cermin yang
jatuh dari helikopter tak mungkin bersemi lagi
kini tiada lagi cinta, yang tinggal cuma celana
kolor hidup trasa hampa udara napasku sesak seperti
menghirup asap tabunan kan kubawa luka hatiku berlari marathon lewat
jagorawi smoga aku dapat melupakan wajahmu yang bulat
seperti bangkuang bogor
Manusia selain sebagai makhluk individu, manusia juga
disebut sebagai makhluk sosial. Artinya manusia memiliki kebutuhan dan kemampuan
serta kebiasaan untuk berkomunikasi dan berinteraksi dengan manusia yang lain. Sosialisasi dan komunikasi
tersebut tentunya diawali dengan tegur sapa (move) atau sekedar senyum simpul
yang manis, yang benar-benar menggambarkan ketimuran bangsa Indonesia. Sejarah
juga telah membuktikan bahwa masyarakat Indonesia di mata dunia adalah
masyarakat yang ramah-tamah, mudah bergaul serta menjunjung tinggi nilai-nilai
kesopanan.
Tegur sapa (move) pada intinya adalah suatu pernyataan
awal seseorang untuk dapat melakukan komunikasi dengan orang lain. Tujuan dari
tegur sapa tersebut tidak lain adalah agar seseorang lawan bicara yang akan
kita ajak berkomunikasi tersebut dapat merespon apa yang kita sampaikan. Namun kenyataannya
bertegur sapa tersebut sangant sulit dilakukan oleh remaja atau pelajar zaman
sekarang, umumnya mereka bertegur sapa hanya pada orang yang mereka kenal atau hanya
pada guru yang pernah dan sedang mengajarnya saja. Di luar daripada itu, para
remaja dan pelajar kita terkesan cuek dan merasa tidak mau tahu dengan
keberadaan orang baru yang ada di lingkungan sekitar nya. Padahal, baik di
sekolah ataupun di rumah pengajaran dan pembelajaran tentang hal tersebut sudah
diajarkan sejak kecil.
Saat ini, kegiatan tegur sapa yang digandrungi
oleh para remaja kita adalah melalui dunia maya di berbagai Sosial media
seperti Facebook, Twitter dan lain sebagainya. Meskipun layanan yang ada pada
internet tersebut disediakan untuk semua orang dalam berinteraksi atau
bersosial dengan sesama, namun pada dasarnya kegiatan tersebut dilakukan tanpa
bertatap muka dan saling sapa secara nyata. Namun didalam kemudahan bersosial
dan ‘berselancar’ di internet ternyata selain telah memanjakan masyarakat dalam
komunikasi, tetapi juga menjadikan kita masyarakat yang antisocial didalam
dunia nyata.
Kenapa dengan sosial media kita menjadi masyarakat
yang antisosial? Jawabannya sangat simple, secara tidak langsung kita telah
mengikis dan menghilangkan budaya tegur sapa dan tatap muka di dunia nyata.
Pasal nya, dengan berhubungan di sosial media danchattingmelalui jejaring sosial kita sudah
merasa lebih dari cukup untuk bersosial. Akan tetapi, coba kita ingat dan
renungkan bahwa dalam sehari sudah berapa kali kita dapat bertegur sapa serta
bertatap muka dengan keluarga dan kerabat kita secara langsung?
Kebiasaan yang lumrah dilakukan masyarakat kita
dalam bertegur sapa atau bertatap muka adalah dengan mengucapkan kata pembuka
seperti; salam, hai, apa kabar, Pak, Buk, Om, tante, dan bentuk sapaan lainnya.
Kendatipun kata-kata pembuka dan sapaan di atas tidak akan terucapkan atau
terlontarkan, maka alangkah baiknya kita keluarkan sebuah senyuman manis yang
dapat mewakili terjadinya tegur sapa dan tatap muka tadi. Bukankah sebuah
senyuman itu bernilai ibadah di mata Allah SWT. Lalu, kenapa sebuah tegur sapa
itu begitu mahalnya bagi masyarakat kita untuk diucapkan?
Lunturnya semangat nasionalisme pemuda Indonesia
Seiring berkembangnya
zaman, rasa nasionalisme kian memudar. Rasa nasionalisme bangsa pada saat ini
hanya muncul bila ada suatu faktor pendorong, seperti kasus pengklaiman
beberapa kebudayan dan pulau-pulau kecil Indonesiaseperti Sipadan, Ligitan ,
serta Ambalat oleh Malaysia beberapa waktu yang lalu. Namun rasa nasionalisme
pun kembali berkurang seiring dengan meredanya konflik tersebut. Hal ini
dibuktikan dari berbagai sikap dalam memaknai berbagai hal penting bagi Negara
Indonesia. Contoh sederhana yang menggambarkan betapa kecilnya rasa
nasionalisme, diantaranya :
Pada saat upacara bendera, masih banyak rakyat yang tidak memaknai arti dari
upacara tersebut. Upacara merupakan wadah untuk menghormati dan menghargai para
pahlawan yang telah berjuang keras untuk mengambil kemerdekaan dari tangan para
penjajah. Para pemuda seakan sibuk dengan pikirannya sendiri, tanpa mengikuti
upacara dengan khidmad.
Pada peringatan hari-hari besar nasional, seperti Sumpah Pemuda, hannya
dimaknai sebagai serermonial dan hiburan saja tanpa menumbuhkan rasa
nasionalisme dan patriotisme dalam benak mereka.
Lebih tertariknya masyarakat terhadap produk impor dibandingkan dengan produk buatan dalam
negeri, serta lebih banyak mencampurkan bahasa asing dengan bahasa Indonesia
untuk meningkatkan gengsi, dan lain-lain.
Kurangnya kesadaran masyarakat “hanya” untuk memasang bendera di depan rumah,
kantor atau pertokoan. Dan bagi yang tidak mengibarkannya mereka punya berbagai
macam alas an entah benderanya sudah sobek atau tidak punya tiang bendera,
malas , cuaca buruk, dan lain-lain. Mereka mampu membeli sepeda motor baru,
baju baru tiap tahun yang harganya ratusan bahkan jutaan tapi mengapa
untuk bendera merah putih yang harganya tidak sampai ratusan saja mereka tidak
sanggup?
Pada masa sekarang ini
sudah sulit ditemukan perlombaan-perlombaan 17-an. Padahal pada masa orde baru,
suasana 17-an telah dirasakan sejak awal Agustus. Perlombaan 17-an merupakan
kegiatan rutin setiap tahunnya dan sudah menjadi budaya baru di negara ini.
Melalui kegiatan ini dapat ditanamkan nilai-nilai nasionalisme ke dalam diri
generasi muda yang nantinya menjadi penerus bangsa. Contoh, dalam permainan
panjat pinang yang paling sulit diraih adalah bendera dan harus melalui usaha
keras untuk mendapatkannya. Dari hal kecil tersebut terkandung nilai
pembelajaran yang sangat tinggi yaitu untuk merebut kemerdekaan, para pahlawan
berjuang mati-matian tanpa mengenal lelah dan tentunya disertai dengan rasa
keikhlasan hati. Terakhir, hal yang paling ironis adalah bangsa ini pada
kenyataannya kurang menghargai jasa-jasa para pahlawan yang masih hidup hingga
sekarang. Mereka yang dahulu telah mengorbankan segalanya untuk kemerdekaan
Indonesia justru mendapatkan imbalan berupa kehidupan yang tidak layak disisa
umur mereka. Padahal dapat dibayangkan apabila dahulu para pahlawan tidak mau
berjuang, pastinya Indonesia masih dalam penjajahan bangsa asing.
Sebenarnya nasib kita
masih lebih baik dan beruntung daripada para pejuang dulu, kita hanya
meneruskan perjuangan mereka tanpa harus mengorbankan nyawa dan
harta.Nasionalisme kita semakin luntur dan akankah punah tergilas modernisasi
dan individualis. Masih banyak bentuk nasionalisme lain yang kita rasakan
semakin memudar. Kurangnya kecintaan kita terhadap produk dalam negeri dan
merasa bangga kalau bisa memakai produk dalam negeri. Kegilaan kita tripping
keluar negeri padahal negeri sendiri belum tentu dijelajahi. Kita belum
tersadar betul bahwa lambat laun sikap-sikap seperti itu akan semakin
menjauhkan kecintaan kita kepada negeri ini.
Pekerja di Indonesia akan
menghadapi persaingan dari pekerja-pekerja lain di Asia Tenggara.
Persaingan di bursa tenaga kerja akan semakin
meningkat menjelang pemberlakuan pasar bebas Asean pada akhir 2015 mendatang.
Ini akan mempengaruhi banyak orang, terutama pekerja yang berkecimpung pada
sektor keahlian khusus.
Berikut lima hal yang perlu Anda ketahui dan antisipasi dalam menghadapi
pasar bebas Asia Tenggara yang dikenal dengan sebutan Masyarakat Ekonomi Asean
(MEA).
Apa itu Masyarakat Ekonomi Asean?
Lebih dari satu dekade lalu, para pemimpin Asean sepakat membentuk sebuah
pasar tunggal di kawasan Asia Tenggara pada akhir 2015 mendatang.
Ini dilakukan agar daya saing Asean meningkat serta bisa menyaingi Cina dan
India untuk menarik investasi asing. Penanaman modal asing di wilayah ini
sangat dibutuhkan untuk meningkatkan lapangan pekerjaan dan meningkatkan
kesejahteraan.
Pembentukan pasar tunggal yang diistilahkan dengan Masyarakat Ekonomi Asean
(MEA) ini nantinya memungkinkan satu negara menjual barang dan jasa dengan
mudah ke negara-negara lain di seluruh Asia Tenggara sehingga kompetisi akan semakin
ketat.
Bagaimana itu mempengaruhi Anda?
Berbagai
profesi seperti tenaga medis boleh diisi oleh tenaga kerja asing pada 2015
mendatang.
Masyarakat Ekonomi Asean tidak hanya membuka arus perdagangan barang atau
jasa, tetapi juga pasar tenaga kerja profesional, seperti dokter, pengacara,
akuntan, dan lainnya.
Staf Khusus Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Dita Indah Sari,
menjelaskan bahwa MEA mensyaratkan adanya penghapusan aturan-aturan yang
sebelumnya menghalangi perekrutan tenaga kerja asing.
"Pembatasan, terutama dalam sektor tenaga kerja profesional, didorong
untuk dihapuskan," katanya.
"Sehingga pada intinya, MEA akan lebih membuka peluang tenaga kerja
asing untuk mengisi berbagai jabatan serta profesi di Indonesia yang tertutup
atau minim tenaga asingnya."
Apakah tenaga kerja Indonesia bisa bersaing dengan negara Asia Tenggara
lain?
Sejumlah pimpinan asosiasi profesi mengaku cukup optimistis bahwa tenaga
kerja ahli di Indonesia cukup mampu bersaing.
Ketua Persatuan Advokat Indonesia, Otto Hasibuan, misalnya mengatakan bahwa
tren penggunaan pengacara asing di Indonesia malah semakin menurun.
Gunung. Sindur berbatasan langsung dengan wilayah Kecamatan Serpong,
Kota Tangerang Selatan yang merupakan salah satu pusat kegiatan perdagangan besar
di Indonesia.
kondisi jalan di daerah perbatasan
antara Provinsi Jawa Barat dengan Banten ini tampak rusak parah. Di sepanjang
jalan yang membatasi kedua provinsi tersebut terlihat lubang yang besar
sehingga menyulitkan kendaraan yang melintas. Apalagi jika musim hujan tiba, para
pengemudi lebih ekstra hati-hati karena lubang tersebut tidak terlihat karena
digenangi air.
Kerusakan yang parah terjadi di jalan
provinsi, yakni jalan yang menghubungkan antara pasar parung Kecamatan Parung
sampai perempatan pasar perungpung kecamatan gunung sindur.
Rusaknya kondisi jalan tersebut
tidak terlepas dengan banyaknya angkutan truk yang membawa tanah dan pasir. Truk
tersebut mengambil tanah dan pasir di daerah Gunung Sindur dan sekitarnya lalu
membawa tanah dan pasir tersebut dengan tujuan Jakarta dan sekitarnya.. Selain itu,
Kondisi
jalan seperti ini sudah bertahun-tahun dan tidak ada perbaikan dari pemerintah
setempat, jika ada, itu pun hanya ditambal atau ditutupi krikil saja.
Padahal,
sudah beberapa kali warga setempat melakukan demo di kantor kecamatan tersebut
agar dilakukan pemberhentian pertambangan tanah dan pasir. Bahkan jika
keinginan warga tidak terpenuhi, mereka mengancam akan memblokade jalan
tersebut.
Jalan raya antara pasar parung
Kecamatan Parung sampai perempatan pasar perungpung kecamatan gunung sindur memang
jalan utama. Bagi waga Banten atau Jawa Barat yang hendak ke Bogor menggunakan
jalan tersebut. Begitu juga dari Bogor ke daerah Tangerang Selatan. Sehingga
tiap hari banyak kendaraan pribadi dan umum yang melewati jalan tersebut.
Namun, kondisi jalan rusak hanya
terjadi di wilayah Gunung sindur perbatasan provinsi Jawa Barat dengan provinsi
Banten. Sedangkan jalan yang masuk wilayah Banten seperti di daerah perempatan
pasar perumpung sampai Serpong kondisinya cukup bagus. Bahkan terus dilakukan
perbaikan sampai saat ini.