Ilmu Budaya Dasar_tiga pantun



pohon besar pohon trambesi
ditanam orang dekat pusara
jika pemimpin suka korupsi
rakyat kecil makin sengsara



pisang emas dibawa berlayar
masak sebiji diatas peti
hutang emas boleh dibayar
hutang budi dibawa mati



tegak rumah karena sendi
runtuh sendi rumah binasa
sendi bangsa adalah budi
runtuh budi runtuhlah bangsa


Ilmu Budaya Dasar_dua puisi

Cintaku di blokir

Cintamu butek bagaikan air sungai ciliwung yang mengalir kuning di pusat kota betawi…
walaupun kata katamu indah bagaikan sair lagu Rinto Harahap anak Medan yang tinggal di peluit sakti…
kau permainkan aku bagaikan anak kucing mempermainkan bola bekel di pelataran rumahmu yang sempit itu….
janji janjimu palsu seperti janji janji kolonialis yang pernah menjajah negeri kita tersayang ini…

tapi ingatlah hai kekasih hukum karma sebentar lagi berlaku pada dirimu…
kau sakiti hatiku sehingga terasa pedih seperti ketika kutilku dicabut…
betapa hancur perasaanku yang robek ini…seperti terigu

aku menangis sendirian dimalam sepi tiada yang menemani
ingin kuadukan kepada polisi tapi sayang semua tidak ada bukti buktinya…
engkau kejam…, kekasih..kejam…, hatiku bertambah sedih ……


Cintaku berat di ongkos

butir-butir air mataku mengalir bagaikan air yang mengalir dari hilir
kumenangis sendirian didalam kamar karena yang lain sedang pergi kepasar
kuingin berteriak keras biar orang seluruh dunia pada mendengar
tapi sayang suaraku terbatas terdengar sampai kelurahan paling pol sekecamatan

engkau kejam, engkau sadis kekasihku yang egoistis tapi manis seperti pala manis
kau putuskan tali cintaku yang tebal seperti tambang kapal
hatiku kini hancur luruh bagaikan cermin yang jatuh dari helikopter
tak mungkin bersemi lagi

kini tiada lagi cinta, yang tinggal cuma celana kolor
hidup trasa hampa udara napasku sesak seperti menghirup asap tabunan
kan kubawa luka hatiku berlari marathon lewat jagorawi
smoga aku dapat melupakan wajahmu yang bulat seperti bangkuang bogor


Ilmu Budaya Dasar_dua kebudayaan penting Indonesia yang hampir punah



Hilangnya budaya tegur sapa




Manusia selain sebagai makhluk individu, manusia juga disebut sebagai makhluk sosial. Artinya manusia memiliki kebutuhan dan kemampuan serta kebiasaan untuk berkomunikasi dan berinteraksi dengan manusia yang lain. Sosialisasi dan komunikasi tersebut tentunya diawali dengan tegur sapa (move) atau sekedar senyum simpul yang manis, yang benar-benar menggambarkan ketimuran bangsa Indonesia. Sejarah juga telah membuktikan bahwa masyarakat Indonesia di mata dunia adalah masyarakat yang ramah-tamah, mudah bergaul serta menjunjung tinggi nilai-nilai kesopanan.

Tegur sapa (move) pada intinya adalah suatu pernyataan awal seseorang untuk dapat melakukan komunikasi dengan orang lain. Tujuan dari tegur sapa tersebut tidak lain adalah agar seseorang lawan bicara yang akan kita ajak berkomunikasi tersebut dapat merespon apa yang kita sampaikan. Namun kenyataannya bertegur sapa tersebut sangant sulit dilakukan oleh remaja atau pelajar zaman sekarang, umumnya mereka bertegur sapa hanya pada orang yang mereka kenal atau hanya pada guru yang pernah dan sedang mengajarnya saja. Di luar dari­pada itu, para remaja dan pelajar kita terkesan cuek dan merasa tidak mau tahu dengan keberadaan orang baru yang ada di lingkungan sekitar nya. Padahal, baik di sekolah ataupun di rumah pengajaran dan pembelajaran tentang hal tersebut sudah diajarkan sejak kecil.

Saat ini, kegiatan tegur sapa yang digandrungi oleh para remaja kita adalah melalui dunia maya di berbagai Sosial media seperti Facebook, Twitter dan lain sebagainya. Meskipun layanan yang ada pada internet tersebut disediakan untuk semua orang dalam berinteraksi atau bersosial dengan sesama, namun pada dasarnya kegiatan tersebut dilakukan tanpa bertatap muka dan saling sapa secara nyata. Namun didalam kemudahan bersosial dan ‘berselancar’ di internet ternyata selain telah memanjakan masyarakat dalam komunikasi, tetapi juga menjadikan kita masyarakat yang antisocial didalam dunia nyata.

Kenapa dengan sosial media kita menjadi masyarakat yang antisosial? Jawabannya sangat simple, secara tidak langsung kita telah mengikis dan menghilangkan budaya tegur sapa dan tatap muka di dunia nyata. Pasal nya, dengan berhubungan di sosial media dan chatting melalui jejaring sosial kita sudah merasa lebih dari cukup untuk bersosial. Akan tetapi, coba kita ingat dan renungkan bahwa dalam sehari sudah berapa kali kita dapat bertegur sapa serta bertatap muka dengan keluarga dan kerabat kita secara langsung?

Kebiasaan yang lumrah dilakukan masyarakat kita dalam bertegur sapa atau bertatap muka adalah dengan mengucapkan kata pembuka seperti; salam, hai, apa kabar, Pak, Buk, Om, tante, dan bentuk sapaan lainnya. Kendatipun kata-kata pembuka dan sapaan di atas tidak akan terucapkan atau terlontarkan, maka alangkah baiknya kita keluarkan sebuah senyuman manis yang dapat mewakili terjadinya tegur sapa dan tatap muka tadi. Bukankah sebuah senyuman itu bernilai ibadah di mata Allah SWT. Lalu, kenapa sebuah tegur sapa itu begitu mahalnya bagi masyarakat kita untuk diucapkan?



Lunturnya semangat nasionalisme pemuda Indonesia




Seiring berkembangnya zaman, rasa nasionalisme kian memudar. Rasa nasionalisme bangsa pada saat ini hanya muncul bila ada suatu faktor pendorong, seperti kasus pengklaiman beberapa kebudayan dan pulau-pulau kecil Indonesiaseperti Sipadan, Ligitan , serta Ambalat oleh Malaysia beberapa waktu yang lalu. Namun rasa nasionalisme pun kembali berkurang seiring dengan meredanya konflik tersebut. Hal ini dibuktikan dari berbagai sikap dalam memaknai berbagai hal penting bagi Negara Indonesia. Contoh sederhana yang menggambarkan betapa kecilnya rasa nasionalisme, diantaranya :
  1. Pada saat upacara bendera, masih banyak rakyat yang tidak memaknai arti dari upacara tersebut. Upacara merupakan wadah untuk menghormati dan menghargai para pahlawan yang telah berjuang keras untuk mengambil kemerdekaan dari tangan para penjajah. Para pemuda seakan sibuk dengan pikirannya sendiri, tanpa mengikuti upacara dengan khidmad.
  2. Pada peringatan hari-hari besar nasional, seperti Sumpah Pemuda, hannya dimaknai sebagai serermonial dan hiburan saja tanpa menumbuhkan rasa nasionalisme dan patriotisme dalam benak mereka.
  3. Lebih tertariknya masyarakat terhadap produk impor  dibandingkan dengan produk buatan dalam negeri, serta lebih banyak mencampurkan bahasa asing dengan bahasa Indonesia untuk meningkatkan gengsi, dan lain-lain.
  4. Kurangnya kesadaran masyarakat “hanya” untuk memasang bendera di depan rumah, kantor atau pertokoan. Dan bagi yang tidak mengibarkannya mereka punya berbagai macam alas an entah benderanya sudah sobek atau tidak punya tiang bendera, malas , cuaca buruk, dan lain-lain. Mereka mampu membeli sepeda motor baru, baju baru tiap tahun yang harganya ratusan bahkan jutaan  tapi mengapa untuk bendera merah putih yang harganya tidak sampai ratusan saja mereka tidak sanggup?


Pada masa sekarang ini sudah sulit ditemukan perlombaan-perlombaan 17-an. Padahal pada masa orde baru, suasana 17-an telah dirasakan sejak awal Agustus. Perlombaan 17-an merupakan kegiatan rutin setiap tahunnya dan sudah menjadi budaya baru di negara ini. Melalui kegiatan ini dapat ditanamkan nilai-nilai nasionalisme ke dalam diri generasi muda yang nantinya menjadi penerus bangsa. Contoh, dalam permainan panjat pinang yang paling sulit diraih adalah bendera dan harus melalui usaha keras untuk mendapatkannya. Dari hal kecil tersebut terkandung nilai pembelajaran yang sangat tinggi yaitu untuk merebut kemerdekaan, para pahlawan berjuang mati-matian tanpa mengenal lelah dan tentunya disertai dengan rasa keikhlasan hati. Terakhir, hal yang paling ironis adalah bangsa ini pada kenyataannya kurang menghargai jasa-jasa para pahlawan yang masih hidup hingga sekarang. Mereka yang dahulu telah mengorbankan segalanya untuk kemerdekaan Indonesia justru mendapatkan imbalan berupa kehidupan yang tidak layak disisa umur mereka. Padahal dapat dibayangkan apabila dahulu para pahlawan tidak mau berjuang, pastinya Indonesia masih dalam penjajahan bangsa asing.
Sebenarnya nasib kita masih lebih baik dan beruntung daripada para pejuang dulu, kita hanya meneruskan perjuangan mereka tanpa harus mengorbankan nyawa dan harta.Nasionalisme kita semakin luntur dan akankah punah tergilas modernisasi dan individualis. Masih banyak bentuk nasionalisme lain yang kita rasakan semakin memudar. Kurangnya kecintaan kita terhadap produk dalam negeri dan merasa bangga kalau bisa memakai produk dalam negeri. Kegilaan kita tripping keluar negeri padahal negeri sendiri belum tentu dijelajahi. Kita belum tersadar betul bahwa lambat laun sikap-sikap seperti itu akan semakin menjauhkan kecintaan kita kepada  negeri ini.













Apa yang harus Anda ketahui tentang Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) 2015


Pekerja di Indonesia akan menghadapi persaingan dari pekerja-pekerja lain di Asia Tenggara.

Persaingan di bursa tenaga kerja akan semakin meningkat menjelang pemberlakuan pasar bebas Asean pada akhir 2015 mendatang.
Ini akan mempengaruhi banyak orang, terutama pekerja yang berkecimpung pada sektor keahlian khusus.
Berikut lima hal yang perlu Anda ketahui dan antisipasi dalam menghadapi pasar bebas Asia Tenggara yang dikenal dengan sebutan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA).

Apa itu Masyarakat Ekonomi Asean?

Lebih dari satu dekade lalu, para pemimpin Asean sepakat membentuk sebuah pasar tunggal di kawasan Asia Tenggara pada akhir 2015 mendatang.
Ini dilakukan agar daya saing Asean meningkat serta bisa menyaingi Cina dan India untuk menarik investasi asing. Penanaman modal asing di wilayah ini sangat dibutuhkan untuk meningkatkan lapangan pekerjaan dan meningkatkan kesejahteraan.
Pembentukan pasar tunggal yang diistilahkan dengan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) ini nantinya memungkinkan satu negara menjual barang dan jasa dengan mudah ke negara-negara lain di seluruh Asia Tenggara sehingga kompetisi akan semakin ketat.

Bagaimana itu mempengaruhi Anda?

Berbagai profesi seperti tenaga medis boleh diisi oleh tenaga kerja asing pada 2015 mendatang.

Masyarakat Ekonomi Asean tidak hanya membuka arus perdagangan barang atau jasa, tetapi juga pasar tenaga kerja profesional, seperti dokter, pengacara, akuntan, dan lainnya.
Staf Khusus Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Dita Indah Sari, menjelaskan bahwa MEA mensyaratkan adanya penghapusan aturan-aturan yang sebelumnya menghalangi perekrutan tenaga kerja asing.
"Pembatasan, terutama dalam sektor tenaga kerja profesional, didorong untuk dihapuskan," katanya.
"Sehingga pada intinya, MEA akan lebih membuka peluang tenaga kerja asing untuk mengisi berbagai jabatan serta profesi di Indonesia yang tertutup atau minim tenaga asingnya."

Apakah tenaga kerja Indonesia bisa bersaing dengan negara Asia Tenggara lain?

Sejumlah pimpinan asosiasi profesi mengaku cukup optimistis bahwa tenaga kerja ahli di Indonesia cukup mampu bersaing.
Ketua Persatuan Advokat Indonesia, Otto Hasibuan, misalnya mengatakan bahwa tren penggunaan pengacara asing di Indonesia malah semakin menurun.

Bobroknya jalan di Gunung sindur


Gunung Sindur adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat. Kecamatan
Gunung. Sindur berbatasan langsung dengan wilayah Kecamatan Serpong, Kota Tangerang Selatan yang merupakan salah satu pusat kegiatan perdagangan besar di Indonesia.

kondisi jalan di daerah perbatasan antara Provinsi Jawa Barat dengan Banten ini tampak rusak parah. Di sepanjang jalan yang membatasi kedua provinsi tersebut terlihat lubang yang besar sehingga menyulitkan kendaraan yang melintas. Apalagi jika musim hujan tiba, para pengemudi lebih ekstra hati-hati karena lubang tersebut tidak terlihat karena digenangi air.

Kerusakan yang parah terjadi di jalan provinsi, yakni jalan yang menghubungkan antara pasar parung Kecamatan Parung sampai perempatan pasar perungpung kecamatan gunung sindur.

Rusaknya kondisi jalan tersebut tidak terlepas dengan banyaknya angkutan truk yang membawa tanah dan pasir. Truk tersebut mengambil tanah dan pasir di daerah Gunung Sindur dan sekitarnya lalu membawa tanah dan pasir tersebut dengan tujuan Jakarta dan sekitarnya.. Selain itu, Kondisi jalan seperti ini sudah bertahun-tahun dan tidak ada perbaikan dari pemerintah setempat, jika ada, itu pun hanya ditambal atau ditutupi krikil saja.

Padahal, sudah beberapa kali warga setempat melakukan demo di kantor kecamatan tersebut agar dilakukan pemberhentian pertambangan tanah dan pasir. Bahkan jika keinginan warga tidak terpenuhi, mereka mengancam akan memblokade jalan tersebut.

Jalan raya antara pasar parung Kecamatan Parung sampai perempatan pasar perungpung kecamatan gunung sindur memang jalan utama. Bagi waga Banten atau Jawa Barat yang hendak ke Bogor menggunakan jalan tersebut. Begitu juga dari Bogor ke daerah Tangerang Selatan. Sehingga tiap hari banyak kendaraan pribadi dan umum yang melewati jalan tersebut.

Namun, kondisi jalan rusak hanya terjadi di wilayah Gunung sindur perbatasan provinsi Jawa Barat dengan provinsi Banten. Sedangkan jalan yang masuk wilayah Banten seperti di daerah perempatan pasar perumpung sampai Serpong kondisinya cukup bagus. Bahkan terus dilakukan perbaikan sampai saat ini.